Kita pernah berteriak dengan nada dan birama yang sama
Mencoba menuliskan nasib tanpa ragu-ragu di udara
Menangisi kesedihan atau menertawakannya saat ia tiada
Aku dan kamu adalah perpaduan sempurna air mata dan tawa
Ya, kita….
Kita pernah saling menuding dalam cemburu yang tidak mengenal batas
Hingga kita terus mencibir kebersamaan yang tergambar dalam kata nikmat pada sebuah laknat
Aku terengah, kamu tiada mengalah, kita lelah, lalu kalah….
Tak ada lagi yang aku dengar
Selain kenangan yang melagu bersama hujan
Tak bisa lagi aku menatap pendaran sinar
kecuali kesempatan yang berjingkat samar-samar
Dalam tangisan sombong yang tidak bersuara, aku merindukanmu….